Jumat, 21 Agustus 2009

lowongan

http://www.poskerja.com/lokasi/jember/

Senin, 17 Agustus 2009

Menjadi Pekerja (atau Aktivis) Ornop, Siapa Takut ?

Menjadi Pekerja (atau Aktivis) Ornop, Siapa Takut ?
Filed under Life after HI
Herjuno NK*
Organisasi non-pemerintah (Ornop) atau juga sering disebut dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan salah satu pilihan tempat mengekspresikan diri yang baik bagi lulusan FISIP, atau Hubungan Internasional secara khusus. Di dalam kalangan LSM sendiri, menjadikan LSM sebagai tempat berkarier masih menjadi sebuah perdebatan. Di satu sisi, ada beberapa orang yang menjadikan pekerjaan di LSM sebagai sebuah profesi, namun di sisi lain ada juga yang menganggap LSM bukan jalur profesi, namun sebuah jalur yang diambil karena orang tersebut mempunyai kesadaran untuk berkontribusi pada transformasi sosial dan lebih berprinsip voluntary atau kesukarelawanan.
Kemunculan Ornop atau LSM di Indonesia mulai menjamur pasca tumbangnya rejim Orde Baru di tahun 1998. Sebelumnya, jumlah Ornop di Indonesia dapat dihitung dengan jari dan banyak sisanya yang dikategorikan sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) oleh pemerintah saat itu. Kehadiran Ornop di era reformasi bukannya muncul begitu saja. Menjamurnya Ornop di Indonesia muncul karena memang ada aliran dana hibah internasional dari negara maju ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Dana tersebut biasanya dikelola oleh lembaga donor internasional, jaringan atau konsorsium antar donor, atau organisasi internasional. Untuk menyalurkan dana kemanusiaan tersebut, maka donor memerlukan mitra lokal atau mitra lama yang kemudian membuka kantor perwakilan di negara tersebut (disebut juga international non-governmental organization). Disinilah kemudian Ornop bermunculan di berbagai tempat di Indonesia. Oleh karena itu, jika membicarakan Ornop sebagai pilihan ”karier”, maka tak lengkap jika tidak menyinggung mengenai jenjang ”karier” lanjutan yang kerap dijalani oleh pekerja atau aktivis Ornop, yakni berkarier di lembaga donor atau organisasi internasional.Jalur karier ini dianggap masih satu ”kotak” dengan LSM karena mereka bertugas mengelola layanan sosial dengan dana pembangunan dan kemanusiaan internasional kepada masyarakat. Oleh karena itu, banyak aktivis LSM yang kemudian berpindah kantor ke lembaga donor atau organisasi internasional setelah sekian tahun bekerja di LSM.
PBB (berikut badan-badannya) biasanya menjadi ”sasaran empuk” ketertarikan mahasiswa HI dalam berkarier.
Alasannya sederhana : gajinya besar, bergengsi, lingkungan kerjanya multikultural, atau sering jalan-jalan
Namun, pada kenyataannya, tidak semua pekerjaan di PBB, lembaga donor, ataupun Ornop adalah fixed term atau dengan kata lain tidak semua karyawannya berstatus pegawai tetap. Untuk bekerja di dunia semacam ini, memang kita harus siap dengan kemungkinan berpindah-pindah pekerjaan karena beberapa hal. Walaupun, memang ada yang dipekerjakan secara tetap.
Bekerja di Ornop secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis pekerjaan. Pertama, bekerja di program, atau kedua, bekerja di kelembagaan atau general supporting system. Bekerja di program artinya kita bekerja dalam lingkup substansi isu yang dibawa Ornop tersebut. Misalnya, dengan bekerja di progam Walhi yang merupakan Ornop lingkungan hidup, berarti pekerjaan kita akan berhubungan dengan isu lingkungan hidup secara penuh. Pengetahuan dan pemahaman kita mengenai masalah lingkungan hidup akan sangat diperlukan dalam pekerjaan ini. Namun jika kita bekerja di kelembagaan, kita akan lebih banyak menangani pekerjaan administratif, seperti keuangan, Sumber Daya Manusia (SDM), pembukuan, akunting, dan lain sebagainya. Pengetahuan dan pemahaman kita mengenai manajemen organisasi yang akan menjadi modal utama untuk terampil dalam pekerjaan ini. Rata-rata lulusan HI bekerja di program yang membahas substansi dari isu yang diperjuangkan.
Jenis pekerjaan di program pun dapat dipilah-pilah menjadi beberapa tipologi pekerjaan. Pertama, advokasi. Advokasi ini dapat berupa advokasi kebijakan atau advokasi masyarakat. Secara sederhana, advokasi dapat diartikan sebagai garda terdepan dalam mengupayakan perubahan sosial dengan cara membantu masyarakat mengubah sistem atau kebijakan yang tidak memihak mereka menjadi berpihak. Orang yang bekerja dalam advokasi kebijakan biasanya akan berhadapan langsung dengan pemerintah dalam membahas suatu kebijakan / undang-undang yang dianggap merugikan satu kelompok masyarakat. Dalam lingkup HI, sangat dimungkinkan advokasi kebijakan berhadapan dengan pembuat kebijakan di tingkat internasional, misal WTO, IMF, atau Perusahaan Multinasional. Latar belakang pendidikan hukum atau litigasi akan sangat membantu dalam pekerjaan jenis ini. Sedang advokasi masyarakat lebih berupaya melakukan pendekatan dan memberi ”pencerahan” kepada masyarakat, sehingga diharapkan masyarakat sendiri yang akan merubah kebijakan yang merugikan mereka.
Kedua, kampanye. Jenis pekerjaan ini banyak mengandalkan keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal untuk berhubungan dengan publik, lembaga donor, atau Ornop lainnya. Seorang campaigner bertugas untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran publik terhadap suatu hal. Cara ini adalah upaya untuk merubah pola pikir atau mindset masyarakat, atau dengan kata lain melakukan perubahan sosial secara jangka panjang. Misalnya, seorang campaigner lingkungan hidup akan berusaha merubah pola pikir masyarakat mengenai penggunaan energi yang berlebihan untuk mengurangi dampak pemanasan global. Pekerjaannya lebih banyak di lapangan, misalnya memutar film mengenai pemanasan global kepada anak-anak, membagi-bagi merchandise, buku, atau cara-cara populer lainnya. Seorang campaigner yang baik juga seharusnya dapat menulis di media massa mengenai isu yang diperjuangkan secara rutin, sehingga suara-suara kepedulian terhadap satu isu dapat terus muncul.
Ketiga, riset atau penelitian. Jenis pekerjaan ini masih jarang disentuh oleh Ornop di Indonesia, namun sebenarnya sangat penting dalam membentuk dan merevitalisasi konsep atas isu-isu yang diperjuangkan. Pekerjaan riset membutuhkan orang yang gemar menganalisis suatu masalah sosial, dan kemampuan analisisnya itulah yang akan dipertaruhkan dalam melakukan riset. Ada dilema bagi seorang researcher yang bekerja di Ornop, karena kebanyakan riset yang dilakukan di dalam Ornop adalah action-oriented atau berorientasi perubahan, maka biasanya hasil kesimpulan penelitian memang ditujukan untuk mendukung satu hal yang diperjuangkan.
Keempat, pembangunan kapasitas atau capacity building. Jenis pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling banyak dikerjakan oleh Ornop. Baik Ornop yang cukup politis atau kurang politis karena tidak mengutak-atik masalah kebijakan, rata-rata mengerjakan hal ini. Pembangunan kapasitas adalah cara pemberdayaan masyarakat dan pemberian pelatihan (peningkatan sumberdaya) kepada masyarakat mengenai suatu hal. Ini terutama banyak dilakukan oleh Ornop yang menangani masalah kesehatan, anak, atau kemiskinan. Apa yang dilakukan oleh Muhammad Yunus (penerima Nobel Perdamaian 2007) sebenarnya lebih banyak merupakan contoh dari pekerjaan capacity building ini, ditambah dengan sedikit advokasi. Untuk bekerja sebagai trainer dalam pembangunan kapasitas ini, yang paling dibutuhkan adalah kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.
Pembagian empat tipologi pekerjaan dalam Ornop ini adalah satu hal yang cair, bukan suatu hal yang pasti dan uniter. Sehingga, bisa saja seorang campaigner merangkap researcher, atau trainer merangkap orang yang bekerja dalam advokasi kebijakan. Satu hal lagi, tidak semua pekerjaan di Ornop yang berkelanjutan, ada juga yang berbasis project. Jika seseorang dikontrak berdasar satu project tertentu, maka biasanya ketika project berakhir, berakhir pula kontrak kerja orang tersebut.
Untuk mengelola dana hibah internasional ini, biasanya ada pembagian dua jenis isu yang dikerjakan : development atau humanitarian. Isu humaniter atau humanitarian biasanya lebih bersifat teknis dan kurang politis. Tapi, bagaimanapun isu humaniter ini sangat penting untuk dikerjakan. Pekerjaaan humaniter berhubungan dengan penyediaan layanan sosial secara langsung, misalnya untuk menajemen bencana. Dalam penanganan manajemen bencana, tentunya ada standar-standar tertentu untuk memberi bantuan kepada korban bencana; apakah dibangunkan tenda penampungan dulu, atau diberi makanan dan layanan kesejahatan dulu baru dibangunkan tenda-tenda yang layak, dan seterusnya. Sebaliknya, isu pembangunan atau development menyangkut soal pemberdayaan masyarakat, misalnya isu HAM, perdagangan yang adil, kesetaraan jender, atau kepedulian lingkungan.
Ketika bekerja di Ornop nasional ataupun internasional, lulusan HI mendapat keuntungan karena hal-hal sebagai berikut.
Pertama, biasanya lulusan HI mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang baik, sehingga bisa berkomunikasi dengan donor asing dengan cukup baik.
Hubungan yang baik antara donor dan Ornop ini tentunya sangat bagus untuk kelangsungan organisasi itu. Kedua, biasanya lulusan HI memiliki daya analisis makro yang baik, sehingga dalam menganalisis masalah, hal ini menjadi satu keuntungan tersendiri. Namun, lulusan HI juga sebaiknya jangan lengah dengan apa yang mereka miliki, karena biasanya ada juga kelemahan dari seorang lulusan HI. Pertama, kemampuan untuk menjalin komunikasi dengan masyarakat di level akar rumput yang sebenarnya menjadi konstituen atau masyarakat yang mereka perjuangkan itu sendiri. Tidak jarang pekerjaan Ornop adalah pekerjaan lapangan, sehingga menginap di satu daerah terpencil di Indonesia adalah satu hal yang tidak bisa dihindari lagi. Jika Ornop di Jakarta lebih banyak melakukan acara di hotel-hotel bagus di Jakarta, maka satu saat pekerja Ornop juga harus menghadapi kegiatan dengan warga di daerah pedesaan. Kedua, kemampuan untuk menganalisis hal-hal yang bersifat mikro, atau yang bersifat domestik, masih kurang bagi anak HI. Tidak semua ilmu HI yang terlihat begitu ”gagah” bisa dipakai langsung dalam penelitian untuk satu isu tertentu
Isu perdagangan, misalnya. Seorang mahasiswa HI yang belajar Ekopolin tentu bisa menganalisis dimensi politik-ekonomi dari fenomena HI, namun ketika dihadapkan pada satu isu spesifik mengenai WTO, pengetahuan HI tidak akan cukup untuk menjangkau hal tersebut. Dalam melihat WTO, ada teknikalitas sektor-sektor tertentu, seperti HaKI, pertanian, NAMA, jasa, penyelesaian sengketa, dan lain-lain, yang mungkin lebih dikuasai lulusan Fakultas Hukum atau Fakultas Ekonomi. Namun, sekali lagi, hal ini bukanlah satu kelebihan dan kekurangan yang sudah pasti, sehingga bisa saja lulusan HI memiliki semua kompetensi untuk bekerja di Ornop.Jenjang karier di sebuah Ornop biasanya tidak banyak, oleh karena itu Ornop dikenal cepat melahirkan sosok pemimpin dalam usia muda. Jenjang tertinggi dalam Ornop adalah Direktur Eksekutif, kemudian di bawahnya ada Program Officer atau setingkat dengan Manajer dalam perusahaan swasta, di bawahnya ada Asisten Program, dan ada pula Staf dan Volunteer. Biasanya ada juga yang memasukkan posisi sela seperti Deputi di bawah Direktur dan di atas Program Officer, atau Program Support Officer di antara Program Officer dan Asisten Program (di beberapa Ornop, Program Support Officer ini dipekerjakan jika Ornop tersebut tidak mempunyai asisten). Lulusan S1 fresh graduate biasanya ditempatkan sebagai Asisten Program, atau mungkin menjadi staf atau program support officer (biasanya di international NGOs). Sangat jarang seorang fresh graduate bisa langsung menjadi Program Officer, kecuali orang tersebut sudah mempunyai cukup pengalaman dalam isu yang dibawa Ornop tersebut. Asisten Program pun bermacam-macam jenis pekerjaannya. Ada asisten yang hanya mengerjakan pekerjaan teknis, namun ada pula asisten yang bisa menggantikan Program Officer jika berhalangan, seperti bertugas untuk menjadi fasilitator, pembicara dll. Dari pengamatan saya, Ornop nasional mempunyai improvisasi lebih banyak dibandingkan Ornop internasional. Artinya, seorang asisten di Ornop nasional bisa mempunyai daya jelajah yang cukup tinggi, dan lebih fleksibel. Bisa saja seorang karyawan di Ornop nasional mempunyai pekerjaan sampingan sebagai asisten dosen, dosen, penerjemah, dll. Tentunya hal itu dilakukan dengan seizin Direktur Ornop yang bersangkutan. Sebaliknya di Ornop internasional, karena mempunyai jam kerja yang lebih tegas, maka pekerjaan mereka lebih tegas namun, seperti yang saya jumpai di beberapa tempat, kurang improvisasi. Ornop nasional adalah sarana pembelajaran yang sangat baik bagi lulusan S1, karena dari sinilah mereka bisa belajar banyak, terutama mengenai isu yang sedang diperjuangkan. Sedangkan Ornop internasional mempunyai kelebihan dalam masalah profesionalisme kerja dan gaji yang diperoleh. Ornop nasional atau internasional dua-duanya sama baik, tergantung orientasi apa yang ingin dituju (dan tentunya kesempatan yang diperoleh!). Meskipun gaji yang diperoleh pekerja Ornop nasional lebih kecil daripada Ornop internasional, namun pembelajaran yang diperoleh selama di Ornop nasional itu dapat menjadi investasi yang sangat berharga di kemudian hari, yang dibutuhkan oleh lembaga donor atau Ornop internasional.
Gaji seorang pekerja Ornop sangat tergantung dari Ornop yang mempekerjakan mereka dan lokasi pekerjaan mereka.
Biasanya, Ornop internasional menggaji lebih tinggi dari Ornop nasional dua kali lipatnya atau lebih untuk posisi yang sama
Yang jelas, tingkat kesejahteraan pekerja Ornop yang bekerja di Ornop yang cukup established berada dalam kategori cukup sampai dengan baik, terutama Ornop internasional yang bisa dikategorikan sangat baik untuk beberapa posisi. Kemudahan lain yang didapat oleh pekerja Ornop adalah uang saku jika mereka mengadakan perjalanan keluar kota atau keluar negeri, atau jika mereka tidak memiliki mobil pribadi, disediakan voucher taksi yang dapat dipergunakan sepanjang tugas di wilayah Jabotabek.Menjadi Aktivis, Tidak Sekadar PekerjaPekerjaan Ornop adalah pekerjaan yang penuh dengan dinamika. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, Ornop dapat menjadi profesi ataupun tidak. Sebagai profesi, Ornop cukup bisa dijadikan sandaran jika seorang pekerja Ornop bergerak ke atas melewati jenjang-jenjang karier dan berpindah dari satu institusi ke institusi lainnya yang menawarkan gaji lebih banyak. Isu yang digeluti pekerja Ornop ini juga bisa beragam / pindah-pindah isu, karena yang mereka harapkan adalah masalah kelangsungan karier di Ornop atau Organisasi Internasional. Namun, jika kita sedikit berpikir mengenai arti dari transformasi sosial yang dilakukan, maka latar belakang bekerja di Ornop sebenarnya dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan perubahan yang lebih besar.
Artinya, bekerja di Ornop tidak harus melulu berkutat di depan komputer dan menyelesaikan semua bentuk laporan, namun harus memberi fungsi pencerahan sosial, misalnya dengan menjadi penulis, menjadi pembicara, menggerakkan komunitas, atau bermain di kancah politik. Artinya, kita akan menjadi aktivis dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar money-seeker dari dana hibah internasional.
Lihatlah contoh berikut. Maria Pakpahan, lulusan Antropologi UGM, yang meneruskan studi ke Belanda dan Inggris, melakukan kerja kemanusiaan di beberapa Ornop dan Organisasi Internasional (INFID, World Food Programme, dll.). Setelah bertahun-tahun bekerja di Ornop dan Organisasi Internasional, saat ini ia menduduki posisi sebagai salah satu ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa dan juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat. M. Ridha Saleh, setelah banyak bekerja untuk Walhi, saat ini menjadi anggota komisioner Komnas HAM. Kemudian Hira Jhamtani, salah satu pendiri Konphalindo yang banyak melakukan penelitian dengan IGJ, saat ini menjadi pengamat sidang-sidang WTO di Jenewa sebagai perwakilan dari Third World Network. Rafendi Djamin, Direktur sebuah Ornop nasional yang bergerak dalam isu HAM, saat ini dipercaya sebagai ”Mr. Ambassador” untuk perundingan HAM di dunia, sebagai salah satu wakil dari Ornop Indonesia. Mereka adalah sedikit dari contoh-contoh ”lulusan” Ornop yang bisa membawa suara mereka dalam berbagai fora, dan melakukan fungsi ”pencerahan sosial” dengan tingkat kesejahteraan yang cukup, kalau tidak dibilang baik. Pilihan untuk menjadi aktivis Ornop adalah satu pilihan yang tidak mudah; dipenjara, atau diancam tidak lulus kuliah, adalah beberapa hal yang pernah mereka alami. Yang jelas, saat ini saja, bekerja di Ornop masih banyak di-underestimate dan dipertanyakan oleh sebagian orang. Namun, saran saya, tidak perlu takut bekerja di Ornop jika kita sudah menentukan tujuan kita berada di sebuah Ornop dan apa yang akan kita lakukan dalam Ornop itu. Jadi, bekerja di Ornop, siapa takut ?
PS : Tips buat mereka yang niat banget menekuni satu isu universal tertentu. Jadilah volunteer atau bekerja magang di Ornop atau Organisasi Internasional yang kamu pikir sesuai dengan ketertarikan kamu! Catatan sebagai volunteer atau pekerja magang ini sangat berguna dalam karier dunia ”pengelola dana pembangunan dan kemanusiaan”. Kegiatan ini bisa dilakukan sambil kuliah, asal bisa bagi waktu saja.
——————————————————————————————–
*Alumni Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Minggu, 16 Agustus 2009

STOP perdagangan perempuan & anak

Apakah perdagangan MANUSIA itu???

definisi TRAFIKING: berdasar protokol PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk mencegah, memberantas dan menghukum Perdagangan Manusia, khususnya Perempuan dan Anak, suplemen konvensi PBB Melawan Organissi Kejahatan Lintas Batas, memasukkan definisi sebagai berikut :
Perdagangan manusia adalah perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau pnerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memeperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas oranglain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi termasuk, paling tidak, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktek-praktek serupa perbudakan, perhambaan atau pengambilan organ tubuh.

Praktek SERUPA :
Perbudakan :
Memerintahkan seseorang untuk bekerja atau memberikan jasa dengan menggunakan ancaman, penyalahgunaan kekeuasaan atau posisi yang dominant, penjeratan utang, kebohongan atau bentuk-bentuk pemaksaan lainnya. Kerja paksa dapat dilakukan demi keuntungan pemerinth, individu pribadi, perusahaan atau asosiasi.
Penghambaan:
Keadaan dimana seseorang berada di bawah penguasaan seseorang pemilik atau majikan; atau hilangnya kebebasan pribadi, untuk bertindak sebagaimana yang dikehendakinya.
Perbudakan :
Keadaan dimana seseorang terbelenggu dalam penghambaan sebagai milik seorang penguasa budak atau suatu rumah tangga: atau praktek: untuk memeiliki budak: atau metode produksi di mana budak merupakan tenaga kerja pokok.
Perbudakan seksual
Ketika seseorang memiliki orang lain dan mengekploitasinya untuk aktivitas seksual.
Prostitusi :
Tindakan sesksual yang dilakukan untuk memperoleh Uang.

Istilah – istilah yang dipakai dalam TRAFIKING :
Eksploitasi : memanfaatkan seseorang secara tidak etis demi kebaikan atau keuntungan seseorang.
Eksploitasi Pekerja : mendapat keuntungan dari hasil kerja orang lain tanpa memberikan imbalan yang layak.
Perekrutan : tindakan mendaftarkan seseorang untuk suatu pekerjaan atau aktivitas.
Broker/MAKELAR : seseorang yang membeli atau menjual atas nama orang laen.